Pagi ini … tragedi lagi!!
Pagi ini aku bangun kesiangan, mungkin karena semalam asik dibuai mimpi indah yang Tuhan titip di tidurku. Ditambah udara dingin yang mencekam semakin mengodaku untuk enggan beranjak dari ranjangku. Tapi tiba-tiba aku dikejutkan oleh pemberitaan di telivisi sesaat setelah tombol on televisiku kunyalakan. Sebuah kapal penumpang jurusan Pare-Pare ke Samarinda tengelam di perairan majene pukul 03.30 dini hari tadi. Kapal yang membawa sekitar 200 lebih penumpang itu berangkat dari pelabuhan Pare-Pare sabtu 10 January 2009 itu dihantam badai dan ombak. Dari data terkhir yang dilansir media ada 18 orang yang ditemukan selamat oleh kapal nelayan dan sisanya masih dalam pencarian.
Tubuhku mendadak lunglai, kejadian itu terjadi saat aku dan kebanyakan orang tengah asik tengelam dalam mimpi. Tak sanggup aku bayangkan kepanikan penumpang kapal saat kejadian itu. Titik dimana Kapal Motor Teratai Prima itu tengelam tak jauh dari titik Pesawat Adam Air jatuh.
Memasuki minggu kedua di tahun 2009, kejadian demi kejadian memilukan, tragedi demi tragedi menyentuh nurani kita. Masih segar di ingatan kita, saat kota Manokwari dilanda Gempa, meskipun tak banyak memakan korban tapi bencana ini meyebabkan kerugian materi dan moril para korbannya.
Belum selesai di perhatian kita Pada gempa Manokwari, kita dihadapkan lagi pada sebuah tragedi banjir bandang di Polman, Sulawesi Barat. Enam korban diberitakan tewas dan 4 orang dinyatakan hilang. beberapa rumah dan bangunan di terjang air. Dan bantuan pun terlambat dan terhambat oleh banjir.
Sangat ironis, duka dan kesedihan para korban tergambar jelas. Tangis dan luka mereka pun mampu meluluhkan hati siapaun yang menyaksikannya.
Air mata kita tak berhenti, setelah sebelumnya dunia disibukkan dengan berita Tragedi Israel dan Palestina di Jalur Gaza. Di redaksi tempat aku bekerja sekarang pun tak kalh sibuknya dengan pemberitaan paling update dua pekan ini. Gambar-gambar, foto-foto, tayangan-tayangan kekejaman Israel yang membabi buta menghujani kawasan sipil jalur gaza dengan bom, rudal, dan tembakan-tembakan dari tank-tank nya. Ratusan ribu warga sipil jadi korban keegoisan sebuah negara, jenasah-jenasah yang kebanyakan anak-anak kecil terlihat di diantara puing-puing bangunan yang porak-poranda oleh rudal. Tangis pilu wanita-wanita yang kehilangan anak-anak dan suami serta keluarganya.
Namun ada pemandangan lain yang lebih Ironis, saat penduduk Israel melihat perang ini sebagai sebuah hiburan. Aneh, jika ada manusia yang tak punya nurani sedikitpun. Bahkan bantuan-bantuan kemanusian pun sulit menembus memasuki jalur Gaza. Kekejaman yang luar biasa menurutku. Israel hanya memberi kesempatan tiga jam untuk bantuan kemanusiaan sebelum rudal-rudal kematian mereka menerjang Jalur Gaza.
Mungkin air mata kita telah terkuras dengan tragedi-tragedi ini. Dan sungguh fatal jika sisi kemanusian kita pun tak sedikitpun terketuk dengan bencana-bencana ini. Tak perlu tenaga, materi sebuah doa dan dukungan saja sudah memberi arti lebih untuk mereka yang tengah terkena musibah.
Sekali lagi, Jika Dunia diliputi oleh semua Cinta yang Tuhan anugerahkan untuk kita, mungkin tak akan ada kesedihan dan luka itu. Paling tidak Cintailah orang-orang di sekelilingimu agar kamu mengerti seberapa besar kekuatan cinta itu mengalahkan Amarah, Dendam, dan Kejahatan.
Aku masih duduk di depan televisiku, termenung dan bersukur atas Cinta yang Tuhan berikan dan Orang-orang sekelilingku berikan untukku. dan tak lupa memanjatkan doa untuk mereka yang dilanda musibah.
1 Komentar »
Tinggalkan Balasan
-
Arsip
- Maret 2009 (1)
- Februari 2009 (7)
- Januari 2009 (17)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS

“Semoga apa yang kita lakukan…baik hanya sepenggal doa…sebaris kalimat…ataupun sepotong suport…segenggam kepedulian…yang tulus, lama-lama akan menjadi samudera yang membahagiakan dan gurun yang mampu menyejukan”.