Dye2′s Blog

jadikan hidup yang singkat ini lebih bermakna

Perempuan dari Lokalisasi

      Ini sebuah kisah, tentang seorang perempuan dari wilayah lokalisasi. Kisah hidup yang dia ceritakan padaku dan kujadikan sebuah cerpen. Perempuan yang kukenal tak sengaja saat aku dan seorang teman kampus ku melakukan penelitian di wilayah lokalisasi itu untuk sebuah Skripsi. Perempuan yang mengajariku arti sebuah kehidupan dan sisi gelap dari sebuah alasan kerdampar di jurang kelam lokalisasi.                                                          

                                                        

                                              *****

     Wajah ku cantik, tubuh mungilku terbalut kulit yang begitu halus, mulus, tanpa cela sedikit pun. Kata orang termasuk ibuku, aku memiliki sepasang mata yang indah. Juga sebuah senyum manis yang selalu tersungging di bibir merah ku.

Indah Putri, itu lah nama ku, nama yang diberikan Ibu tepat di hari kelahiran ku. Dimana ibu menaruh segudang harapan atas nama itu dan selalu berharap hidup ku kelak akan secantik nama ku. Tapi siapa yang mengira perjalanan hidup ku tak seindah harapan-harapan ibu. Dan nasib pun tlah membawaku ke tempat ini.

Kucoba membuka kembali lembaran kelam hidup ku. Ku kumpulkan puing –puing kejadian yang masih terekam jelas diingatanku, menyusunnya dan merangkainya menjadikan nya cerita dalam hidupku.

                                                                        

     Malam itu….awal dari kehidupan ku sekarang ini. Malam yang merenggut segala yang ku miliki termasuk kehormatannku.

Usia ku tepat delapan belas tahun ketika indah nya hidup yang kubangun bersama mimpi-mimpi ku menghilang bersama harapan ku.

Dan semua tak akan menyangka siapa orang yang paling bertanggung jawab yang menyeret ku ke lembah hitam ini.

Ya, malam itu aku sedang terlelap oleh buaian mimpi, dan ketika semua tidak terjaga. Tiba-tiba kusadar ada tangan yang menyentuh tubuh ku. Aku terbangun, dan sangat kaget melihat seseorang yang tak asing bagiku sudah ada dihadapan ku, dan dengan cepat meraih ku, serta membungkam mulut ku dengan tangannya.

“ awas kalau kau teriak, atau pisau ini akan membunuh mu” Ujar nya lirih sambil memempelkan ujung pisau itu di kulit leherku. Tangan nya sangat kuat mencengkram tubuhku, memaksa ku membuka satu persatu pakaianku, sungguh saat itu aku tak mampu melawan.

“Ku mohon jangan lakukan ini pada ku” Aku terus memohon, tapi dia tak peduli, malah menjadi semakin liar, dia menghujani tubuh ku dengan pukulan. Aku merasa pusing, pandangan ku menjadi gelap hingga wajah nya pun tak mampu kulihat, samar-samar kudengar tawa nya.

Malam itu disambut riuh senang para iblis, dia menuntaskannya dalam ketidakberdayaan ku. Tanpa peduli pada tangisku.Tangis yang selalu menbuatnya panik saat aku kecil. Dan aku masih tetap tak ingin percaya, dia lelaki yang seharusnya menjagaku, melindungiku, nyata nya malah dia orang yang selama ini kuhargai merenggut satu-satu nya kehormatan ku. Masih dalam tangis, dia meninggalkan ku tanpa sedikit pun sesal. Aku tak tau apa yang harus kulakukan, tiba-tiba kuingat ibu, aku ingin berlari memeluk nya, mengatakan semua nya. Tapi kaki ini berat untuk kulangkah kan dan bibir ini kelu tuk bicara.

Dan sampai detik ini pun ibu tak pernah tau, aku tak ingin harapan ibu pada lelaki yang selalu dia banggakan hancur begitu saja.

Benar, lelaki itu yang selalu kupanggil dengan sebutan ayah. Lelaki itu pula yang punya andil memberiku kehidupan di dunia ini lewat rahim ibu ku. Dan sejak malam itu kuputuskan untuk pergi, tanpa memberi alasan pada ibu.

                                                                     

     Nama ku Indah Putri. Ingin rasa nya kutanggal kan nama itu. Membuang bersama kelam nya masa laluku.

Tiba-tiba aku ingat pada ibu, tampak wajah nya yang teduh melintas di pelupuk mata ku, dengan senyum yang selalu menghias. Dan aku merindukan ibu, rindu pada belaian sayangnya, suara lembutnya, beningnya tatapannya. Tak kurasa buliran-buliran bening jatuh dari sudut mataku. Aku menangis, hal yang tak pernah kurasakan lagi sejak malam itu.

Satu persatu bayangan masa kecil ku hadir silih berganti, juga gambaran diriku saat aku telah  menjadi dewasa.

Hingga saat ini aku tak mampu menerka apa yang sebenarnya terjadi? Yang membuat ayah berubah?

Aku hanya tau, sejak Ibu sakit ayah jarang pulang kerumah. Sikapnya pada ibu pun berubah total. Kata ibu, ayah sering tidak pulang karena ibu tak lagi bisa memenuhi kebutuhan ayah. Aku bisa mengerti, tapi aku tak pernah menduga ayah akan melampiaskan itu semua pada ku, anak kandungnya sendiri. 

Oh Tuhan, andai ku tau ini kan terjadi aku tak berharap jadi dewasa, aku masih ingin jadi putri kecil kesayangan ibu dan ayah. Aku masih ingin merasakan duduk di pangkuan ibu, tidur di dada nya, menangis dipelukannya.

                                                                      

     Hidup memang adalah keharusan buaknlah pilihan, kepergiannku dari rumah membuat aku sampai di tempat ini. Disini aku bertemu seorang perempuan paruh baya yang kusebut sebagai Mami. Mami ini lah juga yang memawariku pekerjaan ini setelah mendengar kisah hidup ku. Iman dan hati ku mulai bertarung untuk  berkata ya atau tidak

Ayolah Indah, pekerjaan ini sangat menarik. Bukankah kamu sudah tidak perawan lagi. Apa lagi yang kamu pertahankan. Ini bisa menghasilkan uang dan membalas sakit hati mu pada makhlik yang bernama lelaki” kudengar bisikan itu jelas di telingaku. Dan membuatku bibirku mengiyakan tawaran mami.

      Apa pun  akan aku jalani untuk meneruskan hidupku, sekalipun itu pahit untuk ku lewati. Walau  sebenarnya hatiku penuh dengan kebencian, kebencian pada lelaki – lelaki yang setiap malam singgah di kamar ku dan pergi dengan meninggal kan beberapa lembar uang. Terlebih kebencian ku pada lelaki yang tak ingin lagi kusebut sebagai ayah. Karena dia lah aku harus menyerahkan hidupku di lembah hitam ini.

                                                                           

     Tapi aku juga tetap seorang wanita  yang masih punya sedikit keinginan untuk bahagia, menikah, dan mempunya anak dengan sebuah keluarga kecil. Tapi semua pasti akan menertawakan ku jika tau keinginanku ini. Mana ada pria baik yang mau menikah dengan seorang pelacur ?. Omong kosong, itu kan hanya impian, dan tak mungkin jadi nyata.

Aku kan tak perlu menikah jika hanya untuk menikmati kehangatan lelaki, aku juga tak perlu menikah hanya untuk mendapat materi. Semua sudah kudapatkan di tempat ini. Lalu bagaimana dengan status, bukankah tak sedikit yang ingin menjadikan aku istri?. Tapi peduli amat dengan status, apa beda nya buat ku, status sebagai seorang pelacur atau seorang istri yang bekas pelacur.

Ah,kenapa aku harus bimbang dengan status? Aku sudah sangat cukup dengan yang kulakukan selama ini. Meskipun banyak yang menolak keberadaan wanita-wanita yang bekerja seperti ku, kecuali lelaki yang membutuh kan ku untuk sekedar malampiaskan nafsu birahi mereka.

 

Pahitnya hidup yang kulewati membuatku tak tau lagi bagaimana caranya tersenyum dengan tulus. Sebab hatiku telah terbalut dengan luka.

       Oh, pemilik alam semesta ini, jika hidup ini memang milik Mu

       Kuminta ambillah kembali, aku lelah, setiap detikku hanya sakit

       yang kurasakan, sakit dari luka yang ayah torehkan dihatiku.

      Oh, pemilik hidup yang Maha Kuasa, inikah yang Kau namakan

      Takdir, yang membuatku mampu tertawa sekaligus menangis

 

Ku pandangi setiap sudut kamar ku, satu-satu perlahan pergi meninggalkanku dalam kesendirian. Aku bukan lagi Indah Putri yang cantik. Aku bukan lagi Primadona. Tak ada lagi kulit mulus dan tanpa cela. Juga senyum manis yang selalu kubanggakan

                                                                   

     Tapi sekarang aku hanya Indah Putri yang terbaring tanpa daya di ranjang, yang dulu selalu jadi kebanggaan buat ku. Perlahan malaikat maut akan menjemput ku. Seiring virus HIV yang menyebar ditubuh ku, menjadikan aku penderita positif AIDS.

Sungguh aku tak tau siapa yang menularkan virus HIV itu ditubuhku, sebab tak mampu ku ingat dan ku hitung berapa lelaki yang menjamah tubuh ku. Entah lelaki yang mana atau malah ayah ku.

Lalu aku ingat kembali pada ibu, wanita itu juga pasti merindukanku, dan tak kan berhenti menyebut diriku disetiap doanya.

               Bunda, maafkan aku…….!

Hanya itu yang mampu kuucapkan, di detik-detik terakhir hidupku.

Di sisa umurku aku selalu berharap tak ada lagi Indah-Indah yang lain yang bernasib sama seperti ku. Dan tak ada lagi laki-laki yang mengaku diri mereka ayah, malah merampas kehormatan putri mereka sendiri. Ya semoga!

 

     Didedikasikan Untuk Seseorang Perempuan Dari Lokalisasi

                            Hidup memang bukan pilihan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

Januari 19, 2009 - Posted by | Cerpen Q |

1 Komentar »

  1. Salam kenal ya..

    Perih…sakit yang kurasa saat baca tulisan ini.

    Wah…dunia kadang memang kejam
    teganya ya, seorang ayah menghancurkan anaknya
    Semoga bisa jadi pelajaran buat semua
    Pertebal iman…dekatkan diri padaNya
    Tuhan tidak ingin melihatmu menderita…Dia ingin engkau bahagia bersamaNya

    Komentar oleh kweklina | Januari 23, 2009


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.