potret kelam generasi bangsa
Diruang redaksi ku bersama sebuah komputer yang jadi akses bagiku untuk menyimpan data, laporan, liputan, narasumber dan juga akses ku menuju ke dunia maya. Sebuah berita dari reporter telah menunggu untuk ditransfer ke ruang siar. Ini tentang pantauan reporter terhadap aktivitas beberapa anak-anak usia sekolah yang bekerja menyediakan jasa ojek payung . Mungkin bagi mereka musim hujan memberi berkah tersendiri, tapi tidak untuk masa depan mereka. Karena aktivitas sebagai jasa ojek payung ini mereka lakukan di jam-jam sekolah. Mereka lebih memilih membolos sekolah dan bekerja sebagai penyedia jasa ojek payung. Wawan salah satu dari anak-anak itu mengatakan dia memilih untuk tidak masuk sekolah dan bekerja sebagai ojek payung karena lebih menghasilkan uang untuk membantu orang tua mereka. Padahal wawan yang sekarang sudah kelas 6 SD itu sebentar lagi akan mengikuti ujian nasional. Menurut wawan dan anak-anak yang lain, mereka memang sering membolos dari sekolah untuk bekerja.Diluar musim hujan mereka kadang bekerja sebagai penjaja koran di lampu merah. Mereka berkata ini mereka kerjakan semata-mata untuk membantu orang tua mereka yang miskin.
Lagi-lagi kondisi ekonomi yang miskin dijadikan alasan untuk putus sekolah. Patut disayangkan ketika program pendidikan gratis di gembar-gemborkan, masih saja ada anak-anak yang harus putus sekolah. Sangat kontras dengan apa yang tertulis di UUD 45 bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.
Ini hanya gambaran kecil kelamnya masa depan generasi bangsa. Akibat dari tidak mendapat pendidikan, mereka jadi anak-anak Indonesia yang tidak memiliki masa depan yang baik. Anak-anak kolong contohnya, aku memberi nama mereka anak-anak kolong karena aku pertama kali mengenal mereka di bawah kolong dekat terminal di luar kota Makassar. Sebagian besar dari anak-anak kolong hanya menikmati bangku sekolah hingga SD dan SMP, dan harus bergelut dengan kerasnya kehidupan di terminal sebagai calo kendaraan, pengamen atau penjaja asongan. Dan pergaulan buruk pun tak dapat dihindari, merokok, minum mimuman keras, berkelahi adalah makan sehari-hari mereka. Aku pernah bertanya pada mereka, kenapa mereka putus sekolah. Alasan yang sama bahwa orang tua mereka tak mampu membiayai mereka untuk sekolah. Dan mereka pun dituntut untuk membantu orang tua mereka mencari uang dengan bekerja apa saja. Kadang malah nekat untuk mendapatkan uang, seperti mengutil, mencuri bahkan mencopet.
Potret kelam generasi bangsa tak hanya pada anak-anak yang putus sekolah. Mereka yang masih sekolah pun bisa tersandung pada berbagai macam masalah yang bisa menghancurkan masa depan mereka. Seperti brapa hari lalu di ruang redaksi ku, sebuah berita tentang pasangan muda-mudi yang nota bene masih duduk di bangku sekolah terlibat kegiatan mesum. Perbuatan mereka terekam di vidio ponsel dan tersebar. Ini mungkin bukan berita baru, hampir banyak berita-berita yang sama dimana anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah pun melakukan tindakan yang diluar batas.
Tidak mendapat pendidikan yang layak, harus bekerja di usia sekolah, terlibat sex bebas, narkoba, perkelahian adalah sebagian dari potret kelamnya masa depan anak-anak bangsa. Ini adalah sebuah gambaran sedikit yang mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk mencari solusinya agar anak-anak Indonesia tak terlantar secara fisik, mental, pendidikan dan moral. Tak hanya tugas pemerintah untuk memikirkannya, sebagai masyarakat yang peduli pada generasinya, kita pun harus ikut andil menyelamatkan generasi bangsa dengan segala cara. Karena anak-anak indonesia adalah tumpuan bangsa di masa depan.
1 Komentar »
Tinggalkan Balasan
-
Arsip
- Maret 2009 (1)
- Februari 2009 (7)
- Januari 2009 (17)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS

Saya juga turut prihatin akan nasb anak-anak kolong. semestinya mereka berhak mendapatkan waktu bermain mereka bersama teman-teman mereka, belajar, dan mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tua. Saya pernah bertemu dengan anak kolong di jakartaketika naik angkot. dari pakaiannya dan tanpa alas kaki dengan benak dipikirannya yang gelidah, saya melihat sepertinya ada suatu masalah yang berat di benaknya. itulah yang menjadi pertanyaan untuk saya sampai sekarang ini.