Kasih orang tua sepanjang masa
Sore ini, sembari bertamu ke dunia maya, mataku pun asik tertuju di acara infotaiment di salah satu stasiun TV. Berita nya tentang kasus Ryan pembunuh berantai dari jombang. Yang menarik buatku bukan lah pengakuannya terhadap skandal percintaannya dengan sesama jenis yang notabene seorang aktor, atau bukan juga tentang bukunya yang baru aja di luncurkan. Yang membuatku bersimpasi justru ketegaran seorang wanita paruh baya yang setia mendampingi Ryan, wanita yang melahirkan Ryan, wanita yang dalam setiap doanya selalu meminta kebaikan untuk anaknya. Bahkan ketika dalam bukunya pun Ryan membuka aib keluarganya terutama ibunya sendiri itu tidak membuat wanita paruh baya itu menaruh benci pada sosok pemuda yang telah membunuh 11 orang itu.
Seperti itulah kasih orang tua terutama Ibu, dimana ada pepatah mengatakan kasih orang tua sepanjang masa dan kasih anak sepanjang jalan. Aku pun jadi teringat pada seorang perempuan paruh baya juga yang kutemui di atas kereta api tujuan Surabaya Jogya dua tahun lalu. Perempuan itu mempunyai cerita sendiri tentang besarnya kasih sayang orang tua pada anaknya dalam kondisi apapun juga. Nama ibu itu ibu Suri, tujuannya dari surabaya ke kota madiun. Ibu suri baru saja menjenguk anak semata wayang nya yang sekarang berada di Lembaga Permasyarkatan karena kasus pembunuhan. Yang paling menyakitkan adalah anak ibu suri itu telah membunuh ayah kandungnya sendiri, hanya gara-gara permintaan nya untuk memiliki sebuah handpone seperti teman-teman nya yang lain. Tapi karena kondisi orang tuanya yang tidak mampu jd permintaan anaknya tidak dikabulkan. Dan entah setan apa yang merasuki anaknya saat itu hingga tega memukul kepala bapaknya dengan sebuah balok kayu hingga meninggal. Bulu kuduk ku berdiri mendengar cerita itu. Untuk seorang seperti Ibu Suri yang hanya penjual kue di pasar, dapat kurasakan beban nya yang sangat berat. Dalam keadaan kehilangan suaminya ditangan anaknya sendiri, kasih sayangnya pada anak semata wayang nya pun tak sedikitpun luntur. Bahkan setiap dua minggu ibu suri rajin berkunjung ke Surabaya untuk melihat dan membawakan makanan kesukaan putranya.
Lain lagi dengan seorang bapak tua penarik becak di kompleks rumah ku. Usianya sudah teramat tua untuk pekerjaan berat seperti menarik becak. Tapi demi untuk menghidupi istri dan anak-anak nya yang banyak, bapak tua itu rela bekerja apa saja asalkan kebutuhan kelurga terpenuhi. Perjuangan yang besar atas dasar kasih sayang untuk keluarga.
Sungguh besar kasih itu, tapi kasih itu pun sering ternoda oleh ulah-ulah orang tua yang tidak bertanggung jawab. Melakukan aborsi atas darah dagingnya sendiri, membuang bayi yang tak berdosa, menjual anak sendiri dengan alasan ekonomi, menelantarkan anak, penganiayaan terhadap anak. Hal-hal yang sangat tidak dibenarkan oleh agama ataupun oleh hukum. Padahal menjadi orang tua adalah anugrah yang terindah. Karena seharusnya para orang tua bangga karena Tuhan telah member kepercayaan untuk mengurus, membesarkan dan menyayangi anak-anak mereka.
Andai semua orang tua punya cinta,kasih sayang dan semangat seperti yang dimiliki ibu suri dan bapak tua penarik becak itu. Karena hanya cinta dan kasih sayang orang tua yang tak lekang olah zaman.
-
Arsip
- Maret 2009 (1)
- Februari 2009 (7)
- Januari 2009 (17)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
